About SVMBS Study Programs Admission Academic Facilities Service Directory Event contact Language

Stadium General: Food Allergy for Cat and Dog

June 17, 2013. True food allergy or food intolerance is an abnormal reaction of the body to foods that are usually harmless. There should be first exposure to cause an allergic reaction; the animal’s immune system cause an allergic reaction, not the food itself; as well as due to hypersensitivity reactions, the animal may be allergic to more than one food. These were some important key words in food allergies that explained by Zara Boland, BVSc, BE, MRCVS (Founder and Director of Vet Voice, and Veterinary Communications Manager of Nestle Purina for UK and Ireland) at the Stadium General: Food Allergy for Cat and Dog in the Faculty of Veterinary Medicine IPB, Bogor (6/14).

 

17 Juni 2013. Alergi makanan atau intoleransi makanan adalah reaksi tubuh yang tidak normal terhadap bahan makanan yang biasanya tidak berbahaya. Terdapat tiga kata kunci dalam alergi makanan, yaitu: harus ada paparan awal untuk menyebabkan reaksi alergi; sistem kekebalan hewan yang menyebabkan reaksi alergi, bukan bahan makanan itu sendiri; serta dikarenakan reaksi hipersensitivitas, maka hewan bisa menjadi alergi terhadap lebih dari satu bahan makanan. Demikian beberapa hal yang diungkapkan oleh Zara Boland, BVSc, BE, MRCVS (Founder & Director of Vet Voice and Veterinary Communications Manager of Nestle Purina for UK & Ireland) pada Kuliah Umum: “Food Allergy for Cat and Dog” di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (14/6).

Kuliah umum ini disponsori oleh Pro Plan produk dari Nestle Purina dan diikuti oleh mahasiswa program PPDH, mahasiswa program sarjana, dan dosen di lingkungan Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Dalam paparannya, Zara Boland menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan alergi makanan, prevalensi kejadian reaksi alergi makanan parah (AFR, Adverse Food Reaction), gejala-gejala klinis, etiopatogenesa, faktor-faktor resiko, bahan-bahan makanan penyebab alergi, serta bagaimana mendiagnosa dan mengobati AFR.

Definisi Alergi Makanan

Berbagai istilah yang berbeda sering digunakan untuk reaksi alergi makanan, misalnya: alergi makanan,  hipersensitifitas terhadap makanan, intoleransi pakan, reaksi terhadap makanan yang parah, atau penyakit radang usus (IBD, Inflamatory Bowel Disease).

Alergi makanan ialah reaksi tubuh yang tidak normal terhadap bahan makanan yang biasanya tidak berbahaya. Reaksi ini dapat timbul jika terdapat paparan sebelumnya yang akan menyebabkan sensitisasi. Selanjutnya reaksi akan merangsang produksi antibodi, khususnya IgE dan beberapa reaksi mungkin melibatkan IgA. Dengan demikian, dikatakan reaksi alergi haruslah memenuhi paling tidak tiga kata kunci utama, yakni 1) harus ada paparan awal untuk menyebabkan reaksi alergi, 2) penyebab reaksi adalah sistem kekebalan tubuh si hewan itu sendiri, bukan pada bahan makanannya, serta 3) karena reaksi hipersensitivitas, maka hewan bisa menjadi alergi terhadap lebih dari satu jenis bahan makanan.

Prevalensi AFR

Prevalensi AFR saat ini masih belum jelas. Pada kasu penyakit kulit, kejadian AFR memiliki prevalensi 1-6% dari seluruh kasus gangguan kulit. Khusus bagi alergi makanan, prevalensi berkisar 10-49% dari seluruh kejadian alergi. AFRs lebih umum dijumpai pada kucing dibandingkan dengan pada anjing.  Data terbaru menunjukkan 12% dari seluruh penyakit kulit pada anjing ialah AFR.

Pada Reaksi Gastrointestinal, terdapat prevalensi kira-kira 1%. Dari 55 ekor kucing yang mengindap penyakit pencernaan kronis dan idiopatis, maka sebanyak 29% didiagnosa sebagai hipersensitifitas terhadap makanan.

Gejala Klinis AFR

Gejala umum meliputi pruritus non-musiman, tingkat keparahan lesi yang bervariasi, dengan tipe lesi papula, eritoderma, ekskoriasi, hiperpigmentasi, dan seborrhea sicca.

Gejala klinis AFR pada kucing menderita penyakit kulit meliputi: pruritus pada sekujur tubuh yang parah tanpa disertai lesi, pruritus dengan luka akibat garukan, dermatitis milier (banyak titik-titik gatal yang kecil-kecil), alopesia traumatis, otitis eksterna, lesi ulcerative, dan granuloma eosinofilik.

Gejala klinis AFR pada anjing dan kucing yang menderita penyakit gastrointestinal meliputi: nyeri pada abdomen yang bersifat intermiten dan disertai muntah, diare intermiten, peningkatan frekuensi defekasi, penurunan berat badan, flatulen, pruritus ani, perilaku yang merasa mudah terganggu, kotoran yang lembek, serta beberapa gejala bersamaan dengan gejala-gejala kulit.

Etiopatogenesa AFR

Terdapat tiga mekanisme perlindungan alami, yaitu: 1) Pencernaan, dimana protein dipecah menjadi komponen yang lebih kecil yang memiliki sifat antigenic yang lebih rendah; 2) Sistem Pertahanan Mukosa, dimana lapisan dinding mukosa usus bertindak sebagai benteng pertahanan tubuh; dan 3) GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue), terletak di usus sebagai bagian dari sistem imun tubuh, memiliki sel-sel T supresor dalam membantu terbentuknya “toleransi oral”.

Alergi dan hipersensitifitas terhadap makanan terjadi melalui beberapa tahapan, yaitu: 1) hewan mengalami sensitisasi oleh allergen tertentu, 2) hewan terpapar antigen yang sama di kemudian hari, 3) terbentuk hipersensitisasi dengan gejala klinis berupa peradangan, pruritus dan gangguan gastrointestinal.

Alergen berupa protein dengan kilodalton yang besar masuk melewati dinding mukosa usus. Selanjutnya limfosit T menangkap allergen dan membentuk antibodi IgE yang akan mensensitisasi sel mast. Jika dikemudian hari tubuh terpapar allergen yang sama, maka sel mast akan mengenali protein allergen yang besar sehingga sebuah allergen dapat berikatan dengan dua reseptor IgE menyebabkan degranulasi atau pelepasan histamine dari sel mast, sehingga menimbulkan reaksi alergi.

Ukuran molek protein dari allergen sangat berperan di dalam merangsang reaksi alergi. Antigen atau allergen (protein) haruslah cukup besar untuk menjembatani dua buah antibodi IgE yang terikat pada sel mast untuk merangsang terjadinya degranulasi dan reaksi alergi. Kebanyak allergen bersifat allergenic memiliki ukuran antara 18-36 kilo Dalton.

Faktor-Faktor Resiko

Secara pasti, faktor-faktor resiko terjadinya alergi makanan belum diketahui secara pasti. Beberapa diduga diantaranya ialah: umur, penyakit-penyakit gastrointestinal, genetik/ras, dan faktor lain seperti penyakit alergi  lain yang muncul bersamaan. Penyakit-penyakit gastrointestinal yang meningkatkan permeabilitas mukosa usus yang berakibat kegagalan pemecahan protein, ketidakmampuan pencegahan allergen menembus mukosa usus dan kegagalan penyingkiran allergen dari mukosa usus, serta kegagalan sistem kekebalan tubuh pada mukosa usus dapat meningkatkan kejadian alergi makanan.

Alergen Makanan yang Umum

Pada anjing, allergen makanan yang umum dilaporkan ialah daging sapi, kedele, jagung, telur ayam, daging ayam, susu, gandum dan beras, dengan kebanyakan allergen berasal dari daging sapi.

Pada kucing, allergen yang umum ialah ikan, susu, daging sapi, daging domba, daging ayam, daging kelinci, telur dan daging babi dengan kebanyak allergen berasal dari produk ikan.

Meskipun demikian, masih terdapat banyak variasi dari berbagai hasil penelitian terhadap alergi makanan pada kucing dan anjing, dengan penelitian tentang reaksi silang antar allergen makanan pada hewan masih sangat terbatas…