Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemerintah Kota Bogor, Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia, Asosiasi Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner Indonesia, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jawa Barat-2, dan FAO-ECTAD Indonesia bersinergi lakukan Seminar Publik “Mendeteksi, Mencegah dan Merespon Penyakit Infeksi Baru (EIDS) Corona Virus”. Acara digelar di Balaikota, Bogor (4/3).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bogor, Anas Resmana menyampaikan bahwa seminar publik ini dilakukan dalam upaya antisipasi sedini mungkin dalam merespon virus yang menyebabkan kekhawatiran masyarakat.

“Bagaimana cara menanganinya, bagaimana urut-urutannya sehingga manusia atau hewan bisa ditangani. Hal ini juga dalam upaya mewaspadai kelelawar yang ada di dua titik yaitu di Kebun Raya Bogor dan di sekitar danau Situ Gede,” ujarnya.

Acara ini juga dilakukan dalam upaya memberikan informasi yang benar dalam memitigasi penyakit akibat coronavirus. Selain itu kota Bogor yang berlokasi dekat dengan kota Depok dan menjadi kota yang mengampu Istana Presiden tentu menjadi perhatian serius akan pentingnya seluruh elemen masyarakat bersinergi untuk mewujudkan One Health.

Dalam paparannya, Dr drh Joko Pamungkas, MSc, Peneliti Senior Pusat Studi Satwa Primata (PSSP), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University  menyampaikan bahwa salah satu bentuk mitigasi dalam antisipasi kemunculan Penyakit Infeksi Baru/PIB atau Emerging Infectious Disease/EID adalah dengan surveilans pada satwa liar. Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB University ini menyebutkan coronavirus adalah salah satu virus yang ditemukan pada kelelawar di Indonesia sesuai hasil surveilans PREDICT-Indonesia sejak tahun 2009 hingga 2014. Dari hasil surveilans pada beberapa lokasi di Sulawesi tersebut ditemukan enam jenis virus yang menginveksi manusia dan lima jenis menginfeksi satwa liar termasuk di antaranya terdapat coronavirus.

Teorinya, manusia dan hewan yang berperan sebagai inang bisa ditulari oleh patogen. Ada penyakit infeksi virus yang berbahaya pada manusia, setelah diteliti ternyata virus moyangnya berasal dari satwa liar yang berperan sebagai inang alaminya dan tidak timbul penyakit. Berbagai pemicu yang menyebabkan meningkatnya interaksi antara satwa liar dengan manusia antara lain adalah kepadatan populasi manusia dan satwa liar, potensi penularan patogen dari satwa liar ke manusia dipicu karena perubahan fungsi hutan yang mengakibatkan berkurangnya habitat satwa liar sehingga merambah ke pemukiman manusia.

“Beberapa PIB/EID selalu kejadiannya muncul pada manusia terlebih dulu. Seperti pernyataan Prof Jonna Mazet, ahli epidemiologi dan Direktur PREDICT-Global bahwa Ia lebih khawatir kita berlaku seperti biasa sebelum ini. Yaitu menunggu kejadian munculnya PIB di manusia, kenapa tidak diantisipasi sebelumnya sehingga bisa diprediksi,” ujarnya.

Dr Joko menyebutkan berdasarkan hasil surveilans PREDICT-Global secara menyeluruh, ada 931 virus baru yang diidentifikasi. Dan sebetulnya virus penyebab Covid-19 (disebut sebagai SARS-CoV-2) sudah diramalkan sebelumnya atas hasil temuan tim PREDICT-China.

Menurutnya saat ini PSSP bersama Lembaga Biologi Molekular Eijkman (LBME) Jakarta menjadi salah satu partner PREDICT-Global yang melibatkkan sekitar 35 negara di Afrika dan Asia. PREDICT yang didanai oleh USAID ini merupakan kerjasama internasional untuk mendeteksi atau memetakan virus yang beredar di satwa liar, terutama di kelelawar, rodensia dan satwa primata.

Sementara itu, dalam kesempatan ini Dr drh Diah Iskandriati, Peneliti Senior PSSP IPB University  memaparkan tentang “Bagaimana Hidup Secara Aman Berdampingan dengan Kelelawar”. Menurutnya, meski kelelawar merupakan satwa pembawa virus namun banyak memberikan manfaat atau keuntungan buat manusia dibanding kerugiannya.

Kelelawar berfungsi menebarkan biji-biji tanaman, selain itu kelelawar juga pemakan serangga yang menjadi hama tanaman. Selain sebagai penyerbuk lebih dari 300 jenis tanaman penghasil buah, Dr Diah menyampaikan bahwa pemerintah Amerika Serikat merasa diuntungkan dengan adanya kelelawar karena menghemat biaya luar biasa untuk tanaman pangannya sebagai akibat banyaknya serangga pengganggu hasil pertanian yang dimakan kelelawar.

“Mengganggu kelelawar pada akhirnya akan semakin memperdekat interaksinya dengan manusia. Kegiatan menangkap, memburu, mengumpulkan sementara dan memproses untuk dijadikan makanan akan menjadikan risiko terpapar kepada agen patogen menjadi lebih tinggi. Untuk itu diharapkan masyarakat untuk tidak mengganggu populasi mereka, juga habitatnya,” ujarnya.

Selain Dr Joko dan Dr Diah, hadir juga dr Oki Kurniawan dari Dinas Kesehatan yang memberikan materi terkait pencegahan dan merespon PIB Corona Virus dan Dr Dikky Indrawan dari Sekolah Bisnis IPB University bicara terkait aspek sosial ekonomi kelelawar.

Hadir dalam acara ini Drh Narti Daroendio dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat-2, Drh Sudjatmiko dari Balai Penelitian Kesehatan Masyarakat dan Veteriner, juga sekitar 100 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, lintas sektor dan mewakili unsur-unsur masyarakat. (dh/Zul)


 

Published Date : 05-Mar-2020

Narasumber : Dr drh Joko Pamungkas

Kata kunci : Corona Virus, Penyakit Infeksi Baru, PSSP, LPPM, IPB University