Mahasiswa Himpunan Profesi Satwa Liar, Fakultas Kedokteran Hewan IPB University hadirkan Pakar Penguin dari Underwater World Langkawi (UWL), Malaysia. Ia adalah Drh Najmi Hazira Binti Hamzah (Veterinarian of Curatorial, Departement Underwater World Langkawi).

Webinar internasional “Meet the Penguins of Underwater World Langkawi: Introduction to Medical Conservation and Husbandry” secara daring (19/7) ini mengenalkan medik konservasi dan penangkaran penguin di UWL. Peserta yang hadir berasal dari Indonesia, Malaysia, India dan Thailand.

“Kami ingin meningkatkan wawasan mahasiswa tentang ilmu kedokteran satwa liar,” ujar Ketua Himpro Satwa Liar IPB University, Jasmine Electra Alicia Wahono.

Menurut drh Najmi, UWL adalah aquarium yang berlokasi di pulau Langkawi, Malaysia. Jenis penguin yang dapat ditemukan di UWL adalah African penguin (Penguin afrika) dan Northern Rockhopper penguin. Keduanya berasal dari spesies Endangered (menurut IUCN).

“Penyakit umum yang sering diidap penguin adalah aspergillosis, konjungtivitis, corneal opacity, pododermatitis dan infeksi kelenjar preen. Maka dari itu perlu dilakukan pengecekan fisik secara rutin serta penerapan manajemen kandang dan biosekuriti,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, African penguin memiliki musim kawin sepanjang tahun sedangkan musim kawin Northern Rockhoppper penguin adalah di antara bulan Agustus sampai Oktober. Kedua jenis penguin ini menghasilkan dua telur. Telur akan diamati perkembangannya tiap minggu sampai telur menetas.

“Setelah telur menetas, bobot badan, panjang kaki dan flipper, panjang paruh dan perubahan warna bulu burung dicatat. Jika kedua telur menetas, bobot harian anak penguin harus dicatat agar dapat memantau tingkat pertumbuhan kedua anak penguin secara keseluruhan. Biasanya ketika kedua telur menetas akan terjadi persaingan antara kedua anak penguin, jelasnya.

Ia pun bertutur tentang pengalamannya,

“Dari pengalaman saya di UWL, saya dapat memastikan bahwa husbandry sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan hewan. Kita perlu memahami lingkungan alami, perilaku, spesifikasi diet dan kebutuhan sosial dan ruang mereka. Kita juga dapat meminimalkan kemungkinan infeksi penyakit atau masalah kesehatan di kandang penangkaran”. (**/Zul)

Sumber: https://ipb.ac.id/news/index/2021/07/mahasiswa-fkh-ipb-university-hadirkan-pakar-penguin-dari-malaysia/64a0e97770c1d9c21ddd46fe8debf6b4